Kisah Abu Musa Al Asy'ari
Friday, 8 June 2018
Add Comment
Abu musa al asy'ari Ia adalah salah seorang tokoh dan ulama di kalangan para sahabat. Di antara cobaan bagi umat Islam akhir zaman adalah dikaburkannya sosok-sosok teladan mereka. Figur yang mestinya mereka teladani dirusak image-nya. Wibawa mereka dinista. Sehingga umat Islam bingung, siapa yang harus mereka teladani. Umat Islam tidak lagi percaya kepada tokoh-tokoh agama yang selayaknya mereka kagumi. Di antara orang-orang yang dirusak figurnya adalah sahabat Rasulullah ﷺ yang bernama Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu .
Ketika terjadi perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah
radhiallahu ‘anhuma, Ali mengangkat Abu Musa sebagai juru rundingnya,
karena ia seorang yang netral. Tidak memihak Ali dan tidak pula
Muawiyah. Sedangkan Muawiyah mengangkat Amr bin al-Ash. Hasil
perundingan seolah-olah pihak Muawiyah yang diuntungkan. Kemudian
orang-orang yang di hati terdapat penyakit menuduh Amr sebagai seorang
yang licik. Dan Abu Musa sebagai seorang yang lemah dan pendek akalnya,
wa ‘iyadzubillah.
Pada kesempatan kali ini, kita akan mengenal bagaimana sosok Abu Musa
al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu di mata Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Agar kita dapat menilai sosok sahabat yang mulia ini dengan adil. Tanpa
pengaruh pengikut hawa nafsu.
Siapa abu musa al asy'ari itu ?
Rasulullah ﷺ memujinya,
يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُعْطِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ
“Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah dikaruniai suatu suara yang indah
dari keluarga Daud.” (HR. At Tirmidzi dalam Sunannya V/693, menurut At
Tirmidzi hadits ini hasan shahih).
Namanya adalah Abdullah bin Qays. Akan tetapi ia lebih dikenal dengan
kun-yahnya, Abu Musa al-Asy’ari. Ibunya adalah seorang wanita Mekah yang
bernama Zhabiyyah binti Wahb. Ibunya memeluk Islam dan wafat di
Madinah.
Untuk ukuran orang kaukasia, Abu Musa adalah seorang laki-laki Arab yang
pendek. Badannya kurus dan janggutnya tidak lebat. Ia meninggalkan
kampung halamannya, Yaman, karena mendengar tentang seorang Rasul yang
mendakwahkan tauhid di Kota Mekah. Setelah pindah ke kota suci itu, Abu
Musa radhiallahu ‘anhu duduk di majelis Rasulullah ﷺ. Ia mendengar kalam
petunjuk dan ilmu keimanan. Beberapa waktu tinggal di Mekah, kemudian
ia kembali ke Yaman untuk mendakwahi masyarakat kampung halamannya.
Berlayar Menuju Habasyah
Di Yaman, Abu Musa al-Asy’ari berhasil mendakwahi beberapa orang dari
kaumnya. Abu Musa al-Asy’ari bercerita, “Saat di Yaman, kami mendengar
Rasulullah ﷺ keluar (dari Mekah). Kami pun berhijrah untuk bertemu
dengannya. Aku, dua orang kakakku, Abu Burdah dan Abu Ruhm, beserta
50-an orang dari kaumku menaiki perahu. Kami berangkat menuju Habasyah.
Di sana, kami berjumpa dengan Ja’far bin Abu Thalib dan
sahabat-sahabatnya, radhiallahu ‘anhum. Ja’far mengatakan, ‘Sesungguhnya
Rasulullah mengutus dan memerintah kami untuk tinggal (di Habasyah).
Tinggallah kalian bersama kami’. Kami pun tinggal di sana bersamanya.”
(Riwayat Imam Muslim dalam Kitab Fadha-il ash-Shahabah bab Fadha-il
Ja’far bin Abi Thalib wa Asma binti Umais wa Ahlu as-Safinatuhum, No.
2503).
Tiba di Madinah
Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabatnya,
يُقَدِّمُ عَلَيْكُمْ غَدًا قَوْمٌ هُمْ أَرَقُّ قُلُوْبًا لِلْإِسْلَامِ مِنْكُمْ
“Besok, akan datang kepada kalian kaum yang hatinya lebih lembut dari kalian dalam menerima Islam.” (HR. Ahmad 3369).
Keesokan harinya datanglah kabilah al-Asy’ari. Di antara mereka ada Abu
Musa. Saat sekelompok orang dari kabilah ini tengah dekat Kota Madinah,
mereka bersyair:
غَدًا نَلْقَى الأَحِبَّـةَ، مُحَمَّـدًا وَحِزْبَهُ
Esok kita bertemu dengan para kekasih
Muhammad dan sahabat-sahabatnya
Setibanya di Madinah, mereka bersalam-salaman. Ada yang mengatakan
inilah pertama kalinya tradisi salam-salaman dilakukan saat pertama
berjumpa. Inilah budaya Arab, tradisinya kabilah al-Asy’ari. Mereka
terbiasa bersalaman saat pertama berjumpa. Orang-orang Romawi yang
mempengaruhi Eropa dan sebagian wilayah Asia tidak melakukan hal ini.
Sedangkan Persia, mereka bersujud ketika bertemu rajanya. Tradisi
salam-salaman ini pun dilanggengkan dalam syariat Islam.
Kedatangan Kabilah al-Asy’ari berbarengan dengan kedatangan Ja’far dan
peritiwa penaklukkan benteng Khaibar. Nabi menjamu makan mereka. Jamuan
itu dikenal dengan Tha’matu al-Asy’ariyyin. Abu Musa mengatakan, “Kami
bertemu Rasulullah bersamaan dengan penaklukkan Khaibar. Beliau memberi
kami (ghanimah). Hal itu tidak beliau lakukan kepada siapapun yang tidak
turut penaklukkan Khaibar kecuali orang-orang yang berlayar di kapal
menuju Madinah bersama Ja’far dan sahabatnya. Mereka mendapat bagian
juga seperti kami”. (Riwayat al-Bukhari dalam Kitab al-Maghazi Bab
Ghazwatu Khaibar, No: 3992).
Kedudukan Abu Musa al-Asy’ari
Melihat sambutan Rasulullah ﷺ terhadap Kabilah al-Asy’ari, terutama
tokoh mereka yakni Abu Musa, tahulah para sahabat kedudukannya di
kalangan kaum mukminin. Secara pribadi, Abu Musa sendiri adalah seorang
yang fakih, bijak, dan cerdas. Sehingga memang selayaknya ia dihargai.
Di masa berikutnya, Abu Musa menjadi ulama di kalangan para sahabat. Ia
berfatwa dan memutuskan perkara. Rasulullah ﷺ mengangkatnya sebagai
pemimpin di sebagian wilayah Yaman, Zabid, dan Adn. Umar bin al-Khattab
radhiallahu ‘anhu menjadikannya pemimpin di Bashrah. Dan Utsman bin
Affan radhiallahu ‘anhu mempercayakan wilayah Kufah padanya.
Rasa cinta dan kasih Rasulullah ﷺ kepada Abu Musa, beliau tunjukkan saat mendoakannya ampunan dan masuk ke dalam surga.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ قَيْسٍ ذَنْبَهُ، وَأَدْخِلْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ مَدْخَلًا كَرِيْمًا
“Ya Allah, ampunila dosa Abdullah bin Qays (Abu Musa). Masukannlah ia
pada hari kiamat di tempat yang terpuji.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Asy-Sya’bi mengatakan, “Hakimnya umat ini ada empat orang: Amr (bin
al-Ash), Ali (bin Abi Thalib), Abu Musa, dan Zaid bin Tsabit.” (Tarikh
Dimasyq No.31996). Maksudnya adalah orang-orang yang bijaksana
keputusannya. Jika memutuskan suatu perkara, hasilnya bisa diterima,
tepat, dan benar.
Asy-Sya’bi juga mengatakan, “Ahli fikih dari kalangan sahabat Muhammad ﷺ
ada enam orang: Umar, Ali, Abdullah bin Mas’ud, Zaid, Abu Musa, dan
Ubay bin Ka’ab.” (Tarikh Dimasyq No.31996).
Hasan al-Bashri mengatakan, “Tidak ada seorang pengendara kuda yang
datang ke Kota Bashrah, yang lebih baik dari Abu Musa al-Asy’ari.”
(Siyar A’alam an-Nubala, Jilid II, Hal: 389).
Abu Musa dan Alquran
Abu Musa radhiallahu ‘anhu adalah seorang ahlul Quran. Ia menghafal,
memahami, dan mengamalkannya. Jika ia membaca Alquran, suaranya begitu
syahdu dan meresap ke jiwa. Seakan ruh di dalam badan beristirahat
dengan tenang.
Suatu malam, Rasulullah ﷺ mendengar Abu Musa radhiallahu ‘anhu
melantukan ayat suci Alquran. Beliau ﷺ takjub dengan keindahannya.
Rasulullah ﷺ menggambarkan keindahan suara Abu Musa ketika membaca
Alquran dengan sabdanya,
يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ
“Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mungkin ada yang bertanya, Apa yang dimaksud dengan seruling keluarga
Daud? Apakah keluarga Daud memainkan alat musik seruling? Dan suara
seruling itu seperti suara Abu Musa?
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan makna
hadits ini. “Daud ‘alaihissalam diberi wahyu oleh Allah berupa az-Zabur.
Nabi Daud melagukan bacaannya. Beliau memiliki suara yang indah
sampai-sampai gunung-gunung dan burung-burung bertasbih bersamanya.
Mereka berbaris menikmati indahnya bacaan beliau ketika membaca
az-Zabur. Inilah makna sabda beliau.” (Fatawa Nur ala Darb, asy-Syarith
Raqm: 341).
Anda bisa bayangkan! Gunung-gunung dan hewan menikmati keindahan suara
Nabi Daud ketika membaca az-Zabur. Kemudian Nabi ﷺ menyebut bahwa Abu
Musa mendapatkan sebagian dari keindahan suara itu, masya Allah..
Apabila Umar bin al-Khattab bertemu dengan Abu Musa, maka ia meminta Abu Musa untuk melantunkan Alquran. Beliau berkata,
شَوِّقْنَا إِلَى رَبِّنَا يَا أَبَا مُوْسَى
“Buatlah kami rindu dengan Rabb kami wahai Abu Musa.” (Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatu al-Musytaqin, Hal: 400).
Inilah bacaan Alquran yang terbaik, yang membuat seseorang bertambah rindu, cinta, dan takut kepada Allah ﷻ.
Berilmu dan Beramal
Abu Musa radhiallahu ‘anhu adalah figur teladan untuk orang berilmu yang
hendak mengamalkan ilmunya. Ia banyak berpuasa. Suatu ketika ia
mengatakan, “Semoga dahaga di hari yang terik ini menjadi Pintu Rayyan
untuk kita di hari kiamat.” (Rajul Hawla ar-Rasul, Hal: 442).
Dan Abu Musa wafat dalam keadaan berpuasa di hari yang panas.
Membela Abu Musa
Banyak yang merendahkan kemampuan kepemimpinan (leadership) Abu Musa
karena peristiwa tahkim di zaman Ali bin Abu Thalib. Para orientalis
menemukan momen yang tepat untuk memfitnah dan memojokkan
sahabat-sahabat Nabi ﷺ. Lewat peristiwa tersebut, dengan riwayat-riwayat
palsu dan dusta, mereka berkata apapun tentang Ali bin Abi Thalib,
Muawiyah, Abdullah bin Abbas, Amr bin al-Ash, dan Abu Musa al-Asy’ari.
Sayangnya, ucapan mereka dikutip oleh sebagian kaum muslimin. Para
sahabat Nabi ﷺ difitnah memperebutkan dunia (kekuasaan), padahal mereka
telah talak tiga dengan kehidupan dunia.
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana bisa kisah-kisah yang diriwayatkan
oleh ulama ahli sejarah, semisal ath-Thabari, Ibnu al-Atsir, Ibnu Saad,
dan Ibnul Jauzi, itu palsu? Jawabnya adalah ath-Thabari, Ibnu al-Atsir,
Ibnu Saad, dan Ibnul Jauzi tidak mensyaratkan apa yang mereka riwayatkan
adalah berita yang shahih. Oleh karena itu, mereka meriwayatkan
kejadian-kejadian sejarah bersama dengan nama-nama periwayatnya.
Tujuannya agar pembaca bisa menilai kualitas berita tersebut berdasarkan
nama-nama periwayat.
Muhammad Zahid al-Kautsary al-Hanafi rahimahullah membuat tolok ukur
bagaimana menilai kualitas berita dari para sejarawan tersebut. Beliau
mengatakan,
قِيْمَةُ مَا يَرْوِيْهِ ابْنُ جَرِيْرِ قِيْمَةُ سَنَدِهِ
“Kualitas berita yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (ath-Thabari) adalah kualitas sanadnya.”
Artinya, jika sanadnya lemah, beritanya pun juga lemah.
Cukup bagi kita berita-berita shahih dan masyhur tentang pengakuan
kemampuan kepemimpinan Abu Musa al-Asy’ari oleh Rasulullah ﷺ, Umar dan
Utsman radhiallahu ‘anhuma.
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Abu Musa kembali ke Madinah. Sebelumnya, ia
diamanati Rasulullah ﷺ atas wilayah Yaman. Di zaman Umar bin al-Khattab,
Abu Musa diangkat menjadi gubernur Bashrah. Penduduk Bashrah yang
terkenal pembangkang pun tidak memberontak kepada Abu Musa.
Kemudian Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu menjadikannya gubernur
Kufah. Al-Aswad bin Yazid mengatakan, “Aku tidak pernah melihat dari
kalangan sahabat Rasulullah yang lebih berilmu dari Ali dan Abu Musa.”
(Siyar A’alam an-Nubala, Jilid II, Hal: 388).
Setelah mengetahui ini, bagaimana mungkin kita menuduh seorang yang
ditunjuk oleh Rasulullah, Umar, dan Utsman sebagai seorang yang lemah?
Berkali-kali pemimpin yang luar biasa itu menunjuk Abu Musa sebagai
wakil mereka. Bahkan Umar memberinya tugas khusus sebagai hakim. Umar
mengakui keadilan dan kecerdasannya dalam memutuskan perkara.
Wafatnya Sang Pembaca Alquran
Di masa tuanya, Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu semakin giat
beribadah. Sampai-sampai orang-orang menasihatinya agar kasihan terhadap
dirinya sendiri. Diriwayatkan dari Shalih bin Musa ath-Thulhi, dari
ayahnya, ia berkata, “Akhir usia sebelum wafat Abu Musa al-Asy’ari ia
isi dengan bersungguh-sungguh beribadah. Orang-orang berkata padanya,
‘Sekiranya engkau menahan dan tidak memporsir dirimu’. Abu Musa
menjawab, ‘Sesungguhnya kuda pacu, jika mendekati garis lintasan akhir,
ia akan mengeluarkan segala kemampuannya. Dan yang tersisa dari umurku
lebih sedikit dari itu’.” (Siyar A’alam an-Nubala, Jilid II, Hal: 393).
Beberapa saat menjelang ajalnya, Abu Musa senantiasa membaca doa:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ
“Ya Allah, Engkaulah as-Salam dan dari-Mu keselamatan.”
Alangkah indah kalimat-kalimat akhir yang diucapkan Abu Musa. Para ahli
sejarah berbeda pendapat tentang tahun wafatnya. Antara tahun 42 H
hingga 52 H.
“Kualitas berita yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (ath-Thabari) adalah kualitas sanadnya.”
Artinya, jika sanadnya lemah, beritanya pun juga lemah.
Cukup bagi kita berita-berita shahih dan masyhur tentang pengakuan
kemampuan kepemimpinan Abu Musa al-Asy’ari oleh Rasulullah ﷺ, Umar dan
Utsman radhiallahu ‘anhuma.
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Abu Musa kembali ke Madinah. Sebelumnya, ia
diamanati Rasulullah ﷺ atas wilayah Yaman. Di zaman Umar bin al-Khattab,
Abu Musa diangkat menjadi gubernur Bashrah. Penduduk Bashrah yang
terkenal pembangkang pun tidak memberontak kepada Abu Musa.
Kemudian Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu menjadikannya gubernur
Kufah. Al-Aswad bin Yazid mengatakan, “Aku tidak pernah melihat dari
kalangan sahabat Rasulullah yang lebih berilmu dari Ali dan Abu Musa.”
(Siyar A’alam an-Nubala, Jilid II, Hal: 388).
Setelah mengetahui ini, bagaimana mungkin kita menuduh seorang yang
ditunjuk oleh Rasulullah, Umar, dan Utsman sebagai seorang yang lemah?
Berkali-kali pemimpin yang luar biasa itu menunjuk Abu Musa sebagai
wakil mereka. Bahkan Umar memberinya tugas khusus sebagai hakim. Umar
mengakui keadilan dan kecerdasannya dalam memutuskan perkara.
Sekian Kisah Abu Musa Al Asy'ari , jika kalian suka jangan lu di share ya :)
keywoard:
abu musa al-asy'ari, abu musa al asy'ari adalah penemu, abu musa al asy'ari adalah, biodata abu musa al-asy'ari, siapakah abu musa al asy'ari, hadits abu musa al asy'ari, hadits al-bukhari dari abu musa al-asy'ari, biografi abu musa al asy'ari, biografi singkat abu musa al asy'ari, riwayat hidup abu musa al asy'ari, riwayat abu musa al asy'ari
abu musa al-asy'ari, abu musa al asy'ari adalah penemu, abu musa al asy'ari adalah, biodata abu musa al-asy'ari, siapakah abu musa al asy'ari, hadits abu musa al asy'ari, hadits al-bukhari dari abu musa al-asy'ari, biografi abu musa al asy'ari, biografi singkat abu musa al asy'ari, riwayat hidup abu musa al asy'ari, riwayat abu musa al asy'ari

0 Response to "Kisah Abu Musa Al Asy'ari "
Post a Comment