Apa Itu Rebo Wekasan dan Apa Hukumnya?
Wednesday, 6 June 2018
Add Comment
Rabu Wekasan (Jawa: Rebo Wekasan)
adalah tradisi ritual yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan
Shafar, guna memohon perlindungan kepada Allah Swt dari berbagai macam
malapetaka yang akan terjadi pada hari tersebut. Tradisi ini sudah
berlangsung secara turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa, Sunda,
Madura, dll.
Bentuk ritual Rebo Wekasan meliputi empat hal; (1) shalat tolak bala’;
(2) berdoa dengan doa-doa khusus; (3) minum air jimat; dan (4)
selamatan, sedekah, silaturrahin, dan berbuat baik kepada sesama.
Dalam kitab-kitab tersebut disebutkan bahwa salah seorang Waliyullah
yang telah mencapai maqam kasyaf (kedudukan tinggi dan sulit dimengerti
orang lain) mengatakan bahwa dalam setiap tahun pada Rabu terakhir Bulan
Shafar, Allah Swt menurunkan 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam
bala’ dalam satu malam. Oleh karena itu, beliau menyarankan Umat Islam
untuk shalat dan berdoa memohon agar dihindarkan dari bala’ tsb.
Tata-caranya adalah shalat 4 Rakaat. Setiap rakaat membaca surat al
Fatihah dan Surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq dan
An-Nas 1 kali. Kemudian setelah salam membaca doa khusus yang dibaca
sebanyak 3 kali. Waktunya dilakukan pada pagi hari (waktu Dhuha).
PANDANGAN ISLAM
Untuk menyikapi masalah ini, kita perlu meninjau dari berbagai sudut pandang.
Pertama, rekomendasi sebagian ulama sufi (waliyullah) tersebut didasari
pada ilham. Ilham adalah bisikan hati yang datangnya dari Allah (semacam
“inspirasi” bagi masyarakat umum). Menurut mayoritas ulama Ushul Fiqh,
ilham tidak dapat menjadi dasar hukum. Ilham tidak bisa melahirkan hukum
wajib, sunnah, makruh, mubah, atau haram.
Kedua, ilham yang diterima para ulama tersebut tidak dalam rangka
menghukumi melainkan hanya informasi dari “alam ghaib”. Jadi, anjuran
beliau-beliau tidak mengikat karena tidak berkaitan dengan hukum
Syariat.
Ketiga, ilham yang diterima seorang wali tidak boleh diamalkan oleh
orang lain (apalagi orang awam) sebelum dicocokkan dengan al-Qur’an dan
Hadits. Jika sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits, maka ilham tersebut
dapat dipastikan kebenarannya. Jika bertentangan, maka ilham tersebut
harus ditinggalkan.
Memang ada hadits dla’if yang menerangkan tentang Rabu terakhir di Bulan Shafar, yaitu:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه
وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ.
رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي..
“Dari Ibn Abbas ra, Nabi Saw bersabda: “Rabu terakhir dalam sebulan
adalah hari terjadinya naas yang terus-menerus.” HR. Waki’ dalam
al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam at-Tafsir, dan al-Khathib al-Baghdadi.
(dikutip dari Al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, juz
1, hal. 4, dan al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari, al-Mudawi
li-‘Ilal al-Jami’ al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi, juz 1, hal. 23).
Selain dla’if, hadits ini juga tidak berkaitan dengan hukum (wajib,
halal, haram, dll), melainkan hanya bersifat peringatan (at-targhib
wat-tarhib).
HUKUM MEYAKINI
Hukum meyakini datangnya malapetaka di akhir Bulan Shafar, sudah dijelaskan oleh hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله
عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري
ومسلم.
“Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada penyakit
menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Shafar.
Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang
terbang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Menurut al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, hadits ini merupakan respon Nabi
Saw terhadap tradisi yang brekembang di masa Jahiliyah. Ibnu Rajab
menulis: “Maksud hadits di atas, orang-orang Jahiliyah meyakini
datangnya sial pada bulan Shafar. Maka Nabi SAW membatalkan hal
tersebut. Pendapat ini disampaikan oleh Abu Dawud dari Muhammad bin
Rasyid al-Makhuli dari orang yang mendengarnya. Barangkali pendapat ini
yang paling benar. Banyak orang awam yang meyakini datangnya sial pada
bulan Shafar, dan terkadang melarang bepergian pada bulan itu. Meyakini
datangnya sial pada bulan Shafar termasuk jenis thiyarah(meyakini
pertanda buruk) yang dilarang.” (Lathaif al-Ma’arif, hal. 148).
Hadis ini secara implisit juga menegaskan bahwa Bulan Shafar sama
seperti bulan-bulan lainnya. Bulan tidak memiliki kehendak sendiri. Ia
berjalan sesuai dengan kehendak Allah Swt.
Muktamar NU ke-3 juga pernah menjawab tentang hukum berkeyakinan
terhadap hari naas, misalnya hari ketiga atau hari keempat pada
tiap-tiap bulan. Para Muktamirin mengutip pendapat Ibnu Hajar al-Haitami
dalam Al-Fatawa al-Haditsiyah sbb: “Barangsiapa bertanya tentang hari
sial dan sebagainya untuk diikuti, bukan untuk ditinggalkan dan memilih
apa yang harus dikerjakan serta mengetahui keburukannya, semua itu
merupakan perilaku orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang
bertawakal kepada Sang Maha Pencipta. Apa yang dikutip tentang hari-hari
naas dari sahabat Ali kw. adalah batil dan dusta serta tidak ada
dasarnya sama sekali, maka berhati-hatilah dari semua itu” (Ahkamul
Fuqaha’, 2010: 54).
HUKUM SHALAT
Shalat Rebo Wekasan (sebagaimana anjuran sebagian ulama di atas), jika
niatnya adalah shalat Rebo Wekasansecara khusus, maka hukumnya tidak
boleh, karena Syariat Islam tidak pernah mengenal shalat bernama “Rebo
Wekasan”. Tapi jika niatnya adalah shalat sunnah mutlaq atau shalat
hajat, maka hukumnya boleh-boleh saja. Shalat sunnah mutlaq adalah
shalat yang tidak dibatasi waktu, tidak dibatasi sebab, dan bilangannya
tidak terbatas. Shalat hajat adalah shalat yang dilaksanakan saat kita
memiliki keinginan (hajat) tertentu, termasuk hajat li daf’il makhuf
(menolak hal-hal yang dikhawatirkan).
Syeikh Abdul Hamid Muhammad Ali Qudus (imam masjidil haram) dalam kitab
Kanzun Najah Was Surur halaman 33 menulis: “Syeikh Zainuddin murid Imam
Ibnu Hajar Al-Makki berkata dalam kitab “Irsyadul Ibad”, demikian juga
para ulama madzhab lain, mengatakan: Termasuk bid’ah tercela yang
pelakunya dianggap berdosa dan penguasa wajib melarang pelakunya, yaitu
Shalat Ragha’ib 12 rakaat yang dilaksanakan antara Maghrib dan Isya’
pada malam Jum’at pertama bulan Rajab…….. Kami (Syeikh Abdul Hamid)
berpendapat : Sama dengan shalat tersebut (termasuk bid’ah tercela)
yaitu Shalat Bulan Shafar. Seseorang yang akan shalat pada salah satu
waktu tersebut, berniatlah melakukan shalat sunnat mutlaq secara
sendiri-sendiri tanpa ada ketentuan bilangan, yakni tidak terkait dengan
waktu, sebab, atau hitungan rakaat.”
Keputusan musyawarah NU Jawa Tengah tahun 1978 di Magelang juga
menegaskan bahwa shalat khususRebo Wekasan hukumnya haram, kecuali jika
diniati shalat sunnah muthlaqah atau niat shalat hajat. Kemudian
Muktamar NU ke-25 di Surabaya (Tanggal 20-25 Desember 1971 M) juga
melarang shalat yang tidak ada dasar hukumnya, kecuali diniati shalat
mutlaq. (Referensi: Tuhfah al-Muhtaj Juz VII, Hal 317).
HUKUM BERDOA
Berdoa untuk menolak-balak (malapetaka) pada hari Rabu Wekasan hukumnya
boleh, tapi harus diniati berdoa memohon perlindungan dari malapetaka
secara umum (tidak hanya malapetaka Rabu Wekasan saja). Al-Hafidz
Zainuddin Ibn Rajab al-Hanbali menyatakan: “Meneliti sebab-sebab bencana
seperti melihat perbintangan dan semacamnya merupakan thiyarah yang
terlarang. Karena orang-orang yang meneliti biasanya tidak menyibukkan
diri dengan amal-amal baik sebagai penolak balak, melainkan justru
memerintahkan agar tidak keluar rumah dan tidak bekerja. Padahal itu
jelas tidak mencegah terjadinya keputusan dan ketentuan Allah. Ada lagi
yang menyibukkan diri dengan perbuatan maksiat, padahal itu dapat
mendorong terjadinya malapetaka. Syari’at mengajarkan agar (kita) tidak
perlu meneliti melainkan menyibukkan diri dengan amal-amal yang dapat
menolak balak, seperti berdoa, berzikir, bersedekah, dan bertawakal
kepada Allah Swt serta beriman pada qadla’ dan qadar-Nya.” (Ibn Rajab,
Lathaif al-Ma’arif, hal. 143).
HUKUM MENYEBARKAN
Hadratus Syeikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah menjawab pertanyaan
tentangRebo Wekasan dan beliau menyatakan bahwa semua itu tidak ada
dasarnya dalam Islam (ghairu masyru’). Umat Islam juga dilarang
menyebarkan atau mengajak orang lain untuk mengerjakannya. Berikut
naskah lengkap dari beliau:
بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على أمور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.
أورا وناع فيتوا أجاء – أجاء لن علاكوني صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع
كاسبوت إع سؤال، كرنا صلاة لورو إيكو ماهو دودو صلاة مشروعة في الشرع لن
أورا أنا أصلي في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها، كيا
كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين، التحرير لن سأ فندوكور كيا كتاب
النهاية، المهذب لن إحياء علوم الدين. كابيه ماهو أورا أنا كع نوتور صلاة
كع كاسبوت.
ومن المعلوم أنه لو كان لها أصل لبادروا إلى ذكرها وذكر فضلها، والعادة
تحيل أن يكون مثل هذه السنة وتغيب عن هؤلاء وهم أعلم الدين وقدوة المؤمنين.
لن أورا وناع أويه فيتوا أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة
المجالس. كتراعان سكع كتاب حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدي قال: ولا
يجوز الإفتاء من الكتب الغير المعتبرة، لن كتراعان سكع كتاب تذكرة
الموضوعات للملا على القاري: لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل
الفقهية والتفاسير القرآنية إلا من الكتب المداولة (المشهورة) لعدم
الإعتماد على غيرها من ودع الزنادقة والحاد الملاحدة بخلاف الكتب المحفوظة
انتهى. لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية: ولا يحل الإفتاء من
الكتب الغريبة. وقد عرفت أن نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب
هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء
بها. لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع.
كتراعان سكع كتاب القسطلاني على البخاري: ويسمى المختلف الموضوع ويحرم
روايته مع العلم به مبينا والعمل به مطلقا. انتهى…. …… إلى أن قال:
وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِمَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: الصَّلاَةُ خَيْرُ
مَوْضُوْعٍ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَكْثِرْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَقْلِلْ،
فَإِنَّ ذَلِكَ مُخْتَصٌّ بِصَلاَةٍ مَشْرُوْعَةٍ. سكيرا أورا بيصا تتف
كسنتاني صلاة هديه كلوان دليل حديث موضوع، مك أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة
ربو وكاسان كلوان داووهي ستعاهي علماء العارفين، مالاه بيصا حرام، سبب إيكي
بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم. (هذا جواب الفقير إليه
تعالى محمد هاشم أشعري جومباع).
KESIMPULAN
Tradisi Rebo Wekasan memang bukan bagian dari Syariat Islam, akan tetapi
merupakan tradisi yang positif karena (1) menganjurkan shalat dan doa;
(2) menganjurkan banyak bersedekah; (3) menghormati para wali yang
mukasyafah (QS. Yunus : 62). Karena itu, hukum ibadahnya sangat
bergantung pada tujuan dan teknis pelaksanaan. Jika niat dan
pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan syariat, maka hukumnya boleh.
Tapi bila terjadi penyimpangan (baik dalam keyakinan maupun caranya),
maka hukumya haram.
Bagi yang meyakini silahkan mengerjakan tapi harus sesuai aturan syariat
dan tidak perlu mengajak siapapun. Bagi yang tidak meyakini tidak perlu
mencela atau mencaci-maki.
Mengenai indikasi adanya kesialan pada akhir bulan Shafar, seperti
peristiwa angin topan yang memusnahkan Kaum ‘Aad (QS. Al-Qamar: 18-20),
maka itu hanya satu peristiwa saja dan tidak terjadi terus-menerus.
Karena banyak peristiwa baik yang juga terjadi pada Rabu terakhir Bulan
Shafar, seperti penemuan air Zamzam di Masjidil Haram, penemuan sumber
air oleh Sunan Giri di Gresik, dll.
Kemudian, betapa banyak orang yang selamat (tidak tertimpa musibah) pada
Hari Rabu terakhir bulan Shafar, meskipun mereka tidak shalat Rebo
Wekasan. Sebaliknya, betapa banyak m
ومن المعلوم أنه لو كان لها أصل لبادروا إلى ذكرها وذكر فضلها، والعادة
تحيل أن يكون مثل هذه السنة وتغيب عن هؤلاء وهم أعلم الدين وقدوة المؤمنين.
لن أورا وناع أويه فيتوا أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة
المجالس. كتراعان سكع كتاب حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدي قال: ولا
يجوز الإفتاء من الكتب الغير المعتبرة، لن كتراعان سكع كتاب تذكرة
الموضوعات للملا على القاري: لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل
الفقهية والتفاسير القرآنية إلا من الكتب المداولة (المشهورة) لعدم
الإعتماد على غيرها من ودع الزنادقة والحاد الملاحدة بخلاف الكتب المحفوظة
انتهى. لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية: ولا يحل الإفتاء من
الكتب الغريبة. وقد عرفت أن نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب
هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء
بها. لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع.
كتراعان سكع كتاب القسطلاني على البخاري: ويسمى المختلف الموضوع ويحرم
روايته مع العلم به مبينا والعمل به مطلقا. انتهى…. …… إلى أن قال:
وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِمَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: الصَّلاَةُ خَيْرُ
مَوْضُوْعٍ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَكْثِرْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَقْلِلْ،
فَإِنَّ ذَلِكَ مُخْتَصٌّ بِصَلاَةٍ مَشْرُوْعَةٍ. سكيرا أورا بيصا تتف
كسنتاني صلاة هديه كلوان دليل حديث موضوع، مك أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة
ربو وكاسان كلوان داووهي ستعاهي علماء العارفين، مالاه بيصا حرام، سبب إيكي
بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم. (هذا جواب الفقير إليه
تعالى محمد هاشم أشعري جومباع).
KESIMPULAN
Tradisi Rebo Wekasan memang bukan bagian dari Syariat Islam, akan tetapi
merupakan tradisi yang positif karena (1) menganjurkan shalat dan doa;
(2) menganjurkan banyak bersedekah; (3) menghormati para wali yang
mukasyafah (QS. Yunus : 62). Karena itu, hukum ibadahnya sangat
bergantung pada tujuan dan teknis pelaksanaan. Jika niat dan
pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan syariat, maka hukumnya boleh.
Tapi bila terjadi penyimpangan (baik dalam keyakinan maupun caranya),
maka hukumya haram.
Bagi yang meyakini silahkan mengerjakan tapi harus sesuai aturan syariat
dan tidak perlu mengajak siapapun. Bagi yang tidak meyakini tidak perlu
mencela atau mencaci-maki.
Mengenai indikasi adanya kesialan pada akhir bulan Shafar, seperti
peristiwa angin topan yang memusnahkan Kaum ‘Aad (QS. Al-Qamar: 18-20),
maka itu hanya satu peristiwa saja dan tidak terjadi terus-menerus.
Karena banyak peristiwa baik yang juga terjadi pada Rabu terakhir Bulan
Shafar, seperti penemuan air Zamzam di Masjidil Haram, penemuan sumber
air oleh Sunan Giri di Gresik, dll.
Kemudian, betapa banyak orang yang selamat (tidak tertimpa musibah) pada
Hari Rabu terakhir bulan Shafar, meskipun mereka tidak shalat Rebo
Wekasan. Sebaliknya, betapa banyak musibah yang justru terjadi pada hari
Kamis, Jum’at, Sabtu, dll (selain Rabu Wekasan) dan juga pada
bulan-bulan selain Bulan Shafar. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya
musibah atau malapetaka adalah urusan Allah, yang tentu saja berkorelasi
dengan sebab-sebab yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Mengenai cuaca ekstrim yang terjadi di bulan ini (Shafar), maka itu
adalah siklus tahunan. Itu adalah fenomena alam yang bersifat alamiah
(Sunnatullah) dan terjadi setiap tahun selama satu bulanan (bukan hanya
terjadi pada Hari Rabu Wekasan saja). Intinya, sebuah hari bernama “Rebo
Wekasan” tidak akan mampu membuat bencana apapun tanpa seizin Allah
Swt. Wallahu a’lam.

0 Response to "Apa Itu Rebo Wekasan dan Apa Hukumnya? "
Post a Comment